Rabu, 15 Juli 2020

Materi Pembelajaran

GAYA BAHASA (MAJAS)

  1. MAJAS PERBANDINGAN

  1. Metafora : membandingan langsung atas dasar sifat yang sama atau hampir sama.
Contoh : Raja siang telah pergi ke paraduannya. (raja siang = matahari)                                            
  1. Simile : perbandingan tidak langsung
Contoh : Mukanya pucat bagaikan bulan kesiangan.
              Simile  syaratnya ada kata : bagaikan, seperti, laksanai.
  1. Personifikasi : benda mati diibaratkan seperti sifat manusia
Contoh : Sinar rembulan itu mengintip orang pacaran.      
  1. Dispersonifikasi : manusia diperlakukan seperti benda mati, binatang atau tumbuhan
Contoh :   a.  Andaikan engkau jadi bunga, aku jadi tangkainya.
        b. Penyerang bola itu telah berhasil menggondol bola.
  1. Eufemisme : memperhalus
Contoh :    a. Anak Bapak belum biasa naik kelas. (tidak naik)
        b. Hilang ingatan. (gila)
  1. Sinekdok, dibagi dua :
    1. Pars pro toto (sebagian untuk semua)
     Contoh : Sudah lama ia tidak terlihat batang hidungnya.
    1. Totem Pro Parte (semua untuk sebagian)
Contoh : Kelas kami memenangkan lomba MTQ.
  1. Hiperbola : melebih-lebihkan/ membesar-besarkan keadaan
Contoh :   a.   Darahnya mengucur menganak sungai
            (Padahal darahnya tidak seberapa)
      1. Suaranya menggelegar di seluruh dunia.
8.     Litotes (hiperbola negatif)    : menyampaikan kata-kata yang berlawanan arti dengan
                                                             kenyataan guna merendahkan diri.
Contoh : Perjuangan kami hanyalah setitik air dalam samudera luas.
  1. Alusio     : menggunakan ungkapan/ peribahasa atau kata yang artinya sudah umum.
Contoh : Dalam berjuang kita harus rawe-rawe rantas malang-malang putung.
  1. Metonimia : menggunakan merek
Contoh : Saya ke sini memakai bebek. (sepeda motor)
              Tolong belikan Bentoel. (nama rokok)
Saya naik Sri Tanjung. (kereta api)
11.     Alegori    : perbandingan utuh, membentuk kesatuan yang menyeluruh.
Contoh :    Hidup ini diperbandingkan dengan perahu yang tengah berlayar di lautan.
Suami (nakhoda), istri (jurumudi), topan, gelombang, batu karang (cobaan/ halangan dalam kehidupan), tanah seberang (cita-cita hidup).
12.     Asosiasi    : membandingkan karena ada persaaan sifat.
Contoh : Semangatnya keras bagai baja.
13.     Perifrasis    : menggantikan kata-kata yang artinya sama dengan kata yang digantikan.
Contoh : Petang barulah dia pulang.
                  Menjadi : Ketika matahari hilang di balik gunung barulah dia pulang.
14.     Antonomasia : menyebutkan nama lain berdasarkan ciri/ sifat menonjol yang dimilikinya.
Contoh : Si gendut itu telah pergi.
15.     Tropen : membandingkan pekerjaan/ perbuatan yang mengandung pengertian yang sejalan 
                         dan sejajar.
Contoh : Setiap malam ia menjual suaranya untuk nafkah keluarganya.
16.     Parabel : menggunakan perumpamaan dalam hidup.
Contoh : Mahabarata, Bayan Budiman





  1. MAJAS SINDIRAN

    1. Ironi     : menyatakan kebalikan dari sebenarnya
Contoh : Pagi benar engkau datang!
    1. Sinisme     : menyatakan kebalikan dari sebenarnya tetapi kasar
Contoh : Bau badanmu sungguh menggangguku.
  1. Sarkasme  : sindiran terkasar serta langsung menusuk perasaan
Contoh : Otakmu memang otak udang!

  1. MAJAS PENEGASAN

  1. Pleonasme   : menggunakan kata-kata yang sebenarnya tidak perlu karena arti kata-kata
                     tersebut sudah terkandung dalam kata yang diterangkan!
Contoh : Salju putih sudah mulai turun ke bawah.
    1. Repetisi    : mengulang kata atau beberapa kata berkali-kali (biasanya dalam berpidato)
Contoh : Kita junjung dia sebagai pemimpin, kita junjung kita sebagai pelindung, kita junjung
              dia sebagai pembebas kita.
3.     Pararelisme    : seperti repetisi tetapi dipakai dalam puisi.
Jenis : 1) anafora         : pengulangan di awal kalimat
                Contoh :        Kalau’lah diam malam yang kelam.
                    Kalau’lah tenang sawang yang lapang.
                    Kalau’lah lelap orang di lawang.
              2) Epifora         : pengulangan di akhir kalimat atau larik
            Contoh :     Kalau kau mau, aku akan datang.
                    Jika kau kehendaki akau akan datang.
                    Bila kau minta, aku akan datang.
    Penggunaan anafora dan epifora secara sekaligus
            Kami jemu pada lagu
            Kami benci pada lagu
            Kami runtuh karena lagu
            (”Suara dari Sudut Gelita”, oleh Muhammad Ali)
4.     Tautologi : menggunakan kata-kata yang sama artinya (sinonim)
    Contoh : Saya khawatir serta was-was akan keselamtannya.
5.        Simetri   : menggunakan kata, kelompok kata, kalimat yang seimbang artinya.
Contoh : Kakak berjalan tergesa-gesa, seperti orang dikejar anjing gila.
 6.     Enumerasio    : menuliskan satu per satu supaya tiap-tiap peristiwa dalam keseluruhan 
                                          tampak jelas.
Contoh : Angin berhembus, laut tenang, bulan memancarkan lagi.
7.     Klimaks    : menggunakan urutan kata-kata, makin lama makin memuncak pengertiannya.
Contoh : Anak-anak, remaja, dewasa datang menyaksikan film ”Saur Sepuh”.
8.       Antiklimaks : menggunakan urutan kata-kata, makin lama makin melemah pengertiannya.
Contoh : Jangankan seribu, atau seratus, serupiah pun tak ada.
9.     Retorik    : menggunakan kalimat tanya yang tidak memerlukan jawaban.
     Contoh : Mana mungkin orang mati bisa hidup kembali?
10.     Koreksio    : membetulkan (mengoreksi) kembali kata-kata yang salah.
Contoh : Hari ini sakit ingatan, eh ... maaf, sakit kepala maksudku.
11.     Asindenton    : menyebutkan sesuatu secara berturut-turut tanpa memakai kata
                                         penghubung.
Contoh : Kemeja, sepatu, kaos kaki, dibelinya di toko itu.
12.     Polisidenton : menyebutkan sesuatu secara berturut-turut dengan memakai kata penghubung.
Contoh : Dia tidak tahu, tetapi tetap saja ditanyai, akibatnya dia marah-marah.
13.     Ekslamasio : memakai kata-kata seru sebagai penegas.
Contoh : Amboi, indahnya pemandangan ini!
14.     Praterito    : menyembunyikan/ merahasiakan sehingga pembaca harus menerkanya.
Contoh :   Tidak usah kau sebut namanya, aku sudah tahu siapa penyebab 
kegaduhan ini.

15.     Interupsi    : menyisipkan kata-kata/ kalimat guna memperjelas bagian kalimat sebelumnya.
Contoh : Aku, orang yang sepuluh tahun bekerja di sini, belum pernah dinaikkan pangkatku.

D.   MAJAS PERTENTANGAN

1.     Antitesis    : menggunakan perpaduan kata yang berlawanan arti.
Contoh : Cantik atau tidak, kaya atau miskin, bukanlah ukuran masuk surga.
2.     Paradoks    : sesuatu seolah-olah bertentangan, padahal maksud sesungguhnya tidak karena 
                             objeknya berlainan.
Contoh : Hatinya sunyi tinggal di kota Jakarta yang ramai.
3.     Okupasi    : menyatakan bantahan, tetapi kemudian menjelaskan/ menmyimpulkan.
Contoh :   Merokok itu merusak kesehatan, akan tetapi si perokok tak dapat    menghentikan kebiasaannya.
4.     Kontradiskio intermimis    : memperlihatkan pertentangan dengan penjelasan semua.
Contoh : Semua murid kelas ini hadir, kecuali si Hasan yang sedang ikut Jambore.




Ancient, Blind, Boys, Brain, Cartoon, Classic, Comic

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Workshop Online SAGUSABLOG DASAR Gel. 44

Workshop SAGUSABLOG Dasar kali ini Spesial karena akan digabung dengan Workshop Membuat Media Pembelajaran berbasis Record Screen Menggun...